Dia yang Menggerakkan dan Menebarkan Optimisme

Spread the love

Mengambil tempat di bagian luar Pendopo, anak-anak muda itu berdiskusi tentang digital. Di bagian dalam, juga ramai dengan diskusi bertema “Melumpuhkan Kode Keras” dipaparkan oleh seorang psikolog perempuan muda yang cerdas. Kedua grup diskusi tersebut tampak penuh semangat memperbincangkan topik-topik yang tak satupun yang saya fahami. Tapi satu yang saya tahu, mereķa adalah relawan tak terbeli! Optimisme terpancar di wajah mereka. Keyakinan akan Jakarta akan dipimpin oleh pemimpin yang tegas namun punya banyak ide dan tahu cara melaksanakannya. Dan satu lagi, juga santun, akan menjadikan kerja mereka lebih ringan karena dikerjakan dengan hati yang tulus.

Saya mengambil ruang lain, bicara dengan beberapa teman, membuat rapat sendiri tentang jumlah peserta yang akan hadir dalam konser “Dari Melayu Untuk Anies Sandi”. Dalam hitungan yang sederhana, ruang pertunjukkan diketahui tidak akan cukup menampung peserta yang antusias akan hadir menyaksikan dukungan masyarakat melayu untuk Anies-Sandi. Bagiku, memikirkan ruangan untuk acara konser, ternyata jauh lebih berat dari pada diskusinya anak anak muda itu 🙂

Satu hal yang menyamakan saya, dia, dan mereka para relawan itu, kami sama-sama memikirkan bagaimana caranya Anies-Sandi menang. Kami gerah, gelisah, karena ada yang kami perjuangkan. Kepada seorang kawan, saya mengatakan bahwa ini adalah perjuangan saya yang terakhir dalam politik. Mengusung orang baik melenggang dalam politik. Saya mendukung sepenuhnya Anies Baswedan dan Sandiaga Uno karena tahu mereka orang-orang baik. Orang-orang baik musti masuk dalam politik, agar negeri ini terhindar dari para pemimpin-pemimpin bejat yang menjadikan kita dilaknat. Saya berharap, Insya Allah Anies-Sandi akan menang.

Namun bila hasil berkata lain, maka saya berjanji akan berhenti selamanya dari urusan politik. Karena, di usia saya sekarang ini, tandanya saya sudah tak punya harapan untuk Jakarta dipimpin orang baik. Tak ada alasan sedikitpun, dari kacamata apapun, untuk Anies-Sandi kalah. Dari semua sisi mereka berdualah yang paling pantas untuk dipilih.

Lebih ekstrim lagi perkataan kawan saya. Dia berkata: “Bila hasilnya berbeda dari yang kita harapkan, maka saya berharap diwafatkan lebih dulu. Saya tak ingin hidup saya ke depan bertaburan dengan fitnah dunia.  Saya tak punya harapan negara ini menjadi lebih baik, maka saya berharap tidak melihat kejadian kejadian yang tak baik di depan mata.” Saya tak menyangka perkataan itu keluar dari kawan itu.

Tapi itulah kenyataannya. Para relawan bekerja keras ‘mati-matian’ mempertaruhkan yang mereka punya, demi perjuangan ini. Saya tak tahu situasi kejiwaan yang terjadi di tim pasangan calon yang lain, tetapi di sini, di relawan Anies-Sandi, nafas perjuangan itu terasa sekali. Cerita tentang relawan-relawan yang ada di Pendopo Relawan Anies-Sandi adalah cerita tentang orang-orang yang bekerja keras, ikhlas dan tak pernah mengharapkan bayaran. Merekalah wujud nyata dari perkataan Anies, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tetapi karena tak ternilai”.

Meski seringkali kita jengah melihat berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini: tatanan sosial yang timpang, elit politik yang kerap kali menipu, media yang sangat gemar memproduksi pesimisme massal, tetapi melihat kerja dan karya para relawan Anies-Sandi, saya seperti menemukan Indonesia kembali. Indonesia yang diperjuangakan oleh para pejuang, diisi oleh anak-anak muda pejuang dan dimenangkan oleh para pejuang.

Anies Baswedan selalu mengajak kita melihat Indonesia dalam kaca mata yang berbeda. Dia yang selalu memberikan optimisme pada kita. Dialah yang  pernah menggerakkan anak-anak muda cerdas terdidik menyebar di pelosok-pelosok terpencil negeri.  Mengajar, meningkatkan mutu pendidikan, memberikan inspirasi pada anak nun jauh di daerah perbatasan, memompa mereka agar memiliki mimpi yang sama sebagaiamana mimpi anak di kota. Dia mengkayakan pemahaman kita bahwa kekayaan terbesar bangsa kita bukan kekayaan alamnya, namun manusianya, budayanya, dan keberagamannya.

Oleh : Geis Chalifah*

*Penulis adalah promotor Jakarta Melayu Festival dan relawan Pendopo Anies-Sandi

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *