Anies Baswedan dan Ketegasannya, Bahkan Kepada Saya Pribadi

Spread the love

Beberapa tahun lalu saya merencanakan umroh dengan keluarga membawa seluruh anak saya. Namun mereka kuliah di kampus yang berbeda dengan jadwal liburan yang juga berbeda. Saya meminta pada anak saya nomor dua agar meminta izin dari kampusnya di Universitas Paramadina untuk libur satu minggu. Anak saya mengatakan, tidak bisa minta izin seperti itu karena bila tiga kali tidak masuk kuliah maka tidak bisa ikut ujian. Kalaupun sakit tak bisa dengan hanya dengan surat dokter melainkan harus surat dari rumah sakit.

Dikampusnya, menurut Hamzah, tidak mengikuti kuliah diizinkan bila mengikuti kegiatan yang diadakan oleh kampus. Anak saya itu memberi jawaban dengan berbagai alasan yang tentu saja saya tidak mempercayainya.  Karena dimasa kuliah betapa seringnya saya bolos terutama bila ada kegiatan  LDK  HMI yang harus berhari-hari di luar kota dan tak masalah, yang penting bisa menjawab soal ujian dan lulus.
Tak lama kemudian saya bertemu Anies Baswedan di pemakaman seorang teman.  Lalu saya mengatakan pada Anies bahwa saya mau ajak anak-anak umroh sehubungan anak saya yang lain dikampusnya sudah libur namun Universitas Paramadina masih belum libur.  
Anies menjawab: “Enggak bisa karena absensi di Paramadina sudah dengan sistem.”
Sambil berseloroh saya mengatakan: “Hadeuhhh, dulu kita kuliah banyak bolosnya, gak ribettt seperti sekarang.”
Dengan tertawa Anies mengatakan : “Ituuu duluuuuuuu.”

Saya temannya Anies dan meminta ijin pada dia untuk anak saya libur untuk pergi umroh dan Anies sebagai rektor menjawab : Tidak bisa mengijinkan karena sudah peraturan di kampusnya, tidak masuk tiga kali saja maka tidak bisa mengikuti ujian. Tidak ada keistimewaan apapun yang saya dapatkan untuk hal sederhana semacam itu.

Malam tadi seorang relawan yang aktif membantu di Pendopo bertanya pada saya: “Bisa tidak bila ada pengusaha yang mau membantu kampanye kita namun ada bargainig berupa proyek nantinya di Pemrov DKI bila Anies menang dalam pemilihan ini?”
Saya dengan lugas menjawab : “Jangan harap. Sampai kamu pingsan bangun lagi pingsan lagi dan bangun lagi, Anies tak akan mau melakukan transaksi semacam itu ,walau semiskin apapun kondisinya.”
Dia hanya mau melakukan transaksi bila itu untuk kepentingan masyarakat selebihnya jangan mimpi Anies akan lemah dalam soal seperti itu.

Jauh sebelumnya seorang teman yang memiliki lembaga survey bertanya pada saya: “Siapa yang ditunjuk Anies untuk berhadapan dengan pengusaha dan setiap urusan diserahkan pada teman yang dipercayainya itu. Teman itu menjelaskan bahwa hal semacam itu biasa terjadi disemua pemilihan Gurbernur maupun Bupati.”
Saya menjawab dengan tertawa dan balik bertanya: “Menurut Lo, kira-kira Anies mau nggak melakukan yang seperti itu?”
Teman saya itu tertawa ngakak.. sambil berkata : “Calon kau itu kepala batu, kalau seperti itu mana bisa dapat dana kampanye dari pengusaha.”
Saya menjawab dengan enteng: “Rezeki kita Allah yang ngatur. Gue nggak pernah mimpi bangun Rumah Sakit Indonesia dengan MER-C bisa terjadi, tapi Alhamdulillah jadi tuh rumah sakit.”

“Malah kalau Anies bergeser dari prinsip yang dia anut selama ini, maka gue orang pertama meninggalkannya dan menjadi musuhnya.”
Teman saya itu membalas: “Kalian memang sama gilanya.”
Lalu kamipun tertawa bersama menikmati Pilkada dengan segala tantangannya.
Oleh : Geis Chalifah
* Penulis adalah relawan Anies-Sandi dan mantan aktivis HMI

, , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *