Anies Baswedan, Pemimpin Penggerak

Spread the love

Hallo kawan kawan semua 🙂

Izinkan saya bercerita awal kisah kagumnya saya dengan bapak Anies Baswedan. Pada akhir tahun 2013, Indonesia mendekati masa pemilu presiden, sangat menarik untuk diperhatikan siapa calon presiden yang diusung partai politik, mengingat bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah tidak akan menjabat lagi, karena UUD pasal 7 yang telah diamandemen melarang presiden menjabat tiga periode.

Gerakan TurunTangan

Berbagai media massa memberitakan peluang para calon pemimpin bangsa saat itu, setiap partai politik berlomba lomba mengajukan nama calon presiden jagoannya, termasuk Partai Demokrat.

Partai Demokrat memiliki konsep kovensi dalam menentukan calon presidennya, yaitu mengundang semua calon yang berpotensi menjadi presiden dari berbagai kalangan untuk didebatkan visi misi serta program kerjanya lalu yang memiliki elektabilitas tinggilah yang akan diusung sebagai calon presiden. Peserta konvensi diantaranya Dahlan Iskan, Dino Patti Djalal, Gita Wiryawan, Irman Gusman, Pramono Edhie Wibowo, Marzuki Alie,Ali Maskur Musa, Hayono Isman, Endriartono Sutarto, Sinyo Harry Sarundajang dan Anies Baswedan.

Semua calon presiden saya perhatikan, saya cari informasinya, baik dari media mainstream maupun media sosial. Dari semua calon presiden, hanya bapak Anies Baswedan yang membuat saya kagum, pak Anies begitu menginspirasi. Pak Anies mangajak orang baik untuk terjun didunia politik, beliau mengatakan :

“Kalau orang-orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik, maka siapa yang akan mengelola pajak negara? mari kita turuntangan dukung orang orang baik masuk politik.”

Beliau juga menyapaikan dalam setiap pidato debat capresnya bahwa :

“Masalah di Indonesia sangat banyak, dan tidak akan bisa diselesaikan oleh satu orang saja, kita perlu bahu membahu gotong royong turuntangan selesaikan masalah.”
Semangat itu begitu membara, menusuk tulang dada, saya melihat ketulusan dari setiap perkataan pak Anies Baswedan. Saya melihat gerakan turuntangan ini tumbuh subur, ini gerakan nasional yang positif, pemuda pemudi dari berbagai kota bergabung menjadi relawan turuntangan.

Gerakan ini massif dan tanpa dikomandoi, semua yang ikut turuntangan terpanggil nuraninya, tergerakkan oleh perkataan pak Anies Baswedan.

Saya pun demikian, maka dari itu saya mau ikut berpartisipasi didalamnya. Mau ikut sama sama dukung orang baik masuk politik. Hingga akhirnya saya bertemu dengan pak Anies Baswedan dalam acara sosialisasi Gerakan TurunTangan Bandung.

Sosialisasi Gerakan Turuntangan, Saung Angklung Udjo, Bandung
Sejak saat itu, hingga sekarang saya tergabung dalam relawan TurunTangan Bandung. Saya lihat website turuntangan.org disana berkumpul puluhan ribu relawan, saya masih ingat diakhir tahun 2013 jumlah relawan hanya 10 ribu, dimasa awal 2014 meningkat hingga ke 15 ribu, diakhir masa konvensi relawan genap 30 ribu, hingga saat ini di tahun 2016 relawan turuntangan berjumlah 50 ribu orang. Begitu terlihat bahwa Pak Anies menjadi sosok pemimpin yang teladan, saya kira semua relawan turuntangan ingat perkataan pak Anies bahwa :

“Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tetapi karena tak ternilai”

Relawan TurunTangan
Gerakan turuntangan ini tersebar luas diseluruh Indonesia, Aceh, Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Makasar, Marauke, dan kota lainnya, gerakan ini akan terus tumbuh, saya percaya itu.

Sungguh sebuah fakta bahwa pak Anies Baswedan mampu menggerakan kita para relawan melalui kata kata dan tindakannya.

Gerakan Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah

Selepas masa konvensi, Oktober 2014 pak Anies Baswedan dipercayai oleh Bapak Presiden Jokowi untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Ada hal menarik yang perlu kita sama sama cermati. Ya, benar sekali, seperti yang telah sama sama kita ketahui, bahwa pada tanggal 18 Juli 2016 adalah hari pertama sekolah. Pak Anies Baswedan yang saat itu menjabat sebagai menteri mengatakan :

“Orangtua dan sekolah itu keduanya institusi pendidikan. Kemitraan ini harus kuat. Hari pertama itu awal perjalanan panjang baik SD, SMP, SMA, SMK bagi anak. Karena sepertiga harinya anak di sekolah.”
Menurut pak Anies, gerakan mengantar anak ke sekolah di hari pertama merupakan cara orangtua dan pihak sekolah untuk saling membangun komunikasi. Dengan begitu, orangtua pun dapat dengan sepenuhnya mempercayakan anak kepada lingkungan sekolah. Berikut surat edaran gerakan mengatar anak dihari pertama sekolah.

Surat Edaran Hari Pertama Sekolah
Pak Anies menginginkan ini sebagai sebuah gerakan, harapanya, setiap perusahaan dan institusi pemerintahan menginzinkan karyawannya untuk bisa mengatarkan anak di hari pertama sekolah.

“Saya juga minta kepada institusi agar mengizinkan orangtua mengantar anak ke sekolah dulu. Setelah itu mereka baru berangkat kerja,”
Alhamdulillah, imbauan pak Anies disambut baik, terbukti Menteri PANRB menyambut ajakan ini dengan mengeluarkan Surat Menteri PANRB No.B/2461/M.PANRBN/ 07/2016 tentang izin bagi PNS di hari pertama masuk sekolah. Surat ini ditujukan kepada bupati, gubernur, menteri dan seluruh pimpinan lembaga pemerintahan lainnya agar PNS diizinkan mengantarkan anak ke sekolah.

Bahkan Pak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta yang awalnya menolak PNS mengantar anak ke sekolah, akhirnya mengizinkan. Sungguh Pak Anies Baswedan mampu menggerakan jajaran pimpinan pemerintahan.

Hari pertama sekolah adalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang anak selama di bangku pendidikan. Sekolah merupakan rumah kedua bagi anak. Gerakan mengantar anak sekolah yang diinisiasi oleh pak Anies memberi banyak manfaat bagi anak sekolah.

Jadi, mau ambil bagian dalam pergerakan dan perubahan atau hanya diam ratapi keadaan?

Yuk! Mari #MajuBersama ikut gerakan #SalamBersama untuk memajukan kota Jakarta dan membahagiakan warganya 🙂

Salam Bersama,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *