Catatan Kecil Relawan Darat

Spread the love

Oleh Alvira Shenny

Pasar Minggu, 29 Januari 2017-Ironis, bisa dibilang miris, mengiris-iris hati. Saya tak tahu lagi kalimat apa yg layak utk menggambarkan nya.

Dibawah guyuran hujan Setelah nobar “Jakarta Unfair” malam itu (28-januari 2016). Kami, para Relawan Anies-Sandi ngobrol santai. Kami pada dasarnya memiliki kekhawatiran yg sama. Kami tidak pernah rasis, terbiasa menghargai perbedaan sejak kami lahir di bumi-NYA. Tapi, beberapa tahun ini, hanya perih yg kami terima. Tanpa bermaksud menuduh laten tertentu.

Ketua Posko Besar pemenangan Anies-Sandi Pasar Minggu mengungkapkan kekhawatirannya di awal ngobrol santai malam itu. “Bisa dibilang, Kalau saya relawan murni. Engga ada yg saya harapkan, kecuali Jakarta yg lebih baik. Saya bukan orang partai yg punya kepentingan, saya sudah tua mau apa lagi siyh?! Berkorban waktu, modal sendiri terkadang (diselingi tawa kecil). Kaga lain-lain, ( supaya ) Anies-Sandi naik (jadi gubernur-wagub). udah tenang ( hati ) saya.”

Curhatan lain datang dari seorang anak muda yg bergabung di simpul Relawan Anies-Sandi Jakarta Maju Bersama. “Keluarga saya ( dari kecil ) berjualan pakaian di Tanah Abang. Mayoritas yg jualan org Padang sama Betawi. Kami para pribumi dipindahkan ke blok G (dgn lokasi di belakang, paling sulit dijangkau pembeli, kebijakan dari pengelola pasar). Sementara orang-orang Tionghoa ditempatkan di blok depan. Siapa lagi yg mau belanja di kami? Sudahlah mereka di depan, harga lebih murah. Banyak sekarang pedagang pribumi yg tutup toko. Mau usaha apalagi? Karena sdh turun-temurun usahanya di Tanah Abang. Ada yg akhirnya nekat jualan ( menjadi ) PKL dan menanggung resiko nya. Demi menyambung hidup keluarga”

Saya shock mendengar nya. Saat itu saya hanya diam kehabisan kata.
Hal Ini baru saya dengar. Kita terjajah di tanah air, bumi di mana kita dilahirkan. Di mana seharusnya senyum dan harapan dimulai. Harus kah kami mati kering dalam kemelaratan? Haruskah masa depan anak cucu kami berkahir di rezim ini? Pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk di benak saya.

Saudara-saudara ku sebangsa dan setanah air.
Masa lalu telah mengajarkan…
Gunakan hak pilih Anda sebijaksana mungkin. Bukan karena agamanya, bukan karena fanatik buta, bukan juga karena primordial nya, tapi karena tanggungjawab kita terhadap anak-anak, cucu-cucu dan generasi penerus kita.

Saya juga tidak mungkin mengambil langkah yg sama, jika saya tidak merasakan ke khawatiran yg sama. Saya hanya ibu rumah tangga biasa. Seorang ibu yg sangat mengkhawatirkan masa depan generasi penerus saya. Jujur, saya tidak ingin suatu saat nanti anak-cucu saya berangkat mengaji dan di sorakin teroris karena guru ngaji mereka diciduk polisi dengan tuduhan makar. Sementara saya sudah tua terkulai dan tidak bisa berbuat banyak.

Gunakan hak pilih Anda sebijaksana mungkin.
COBLOS PECI NYA !!!
Hanya Paslon no. 3, bapak Anies Baswedan dan bapak Sandiaga Uno yg mengusung identitas bangsa Indonesia (peci), yg nasionalis sejati, pelopor bukan pengikut, tidak mengusung rasisme, dan benar-benar berpihak pada kepentingan mayoritas kita. Pilih yg benar utk Jakarta yg lebih baik. #SalamBersama #MajuBersama

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *