Politik Antik Para Perawat Makam

Spread the love

Penulis: M Chozin Amirullah | mantan koordinator Pendopo Relawan

Jangan disangka para perawat makam buta politik. Jika Anda berasumsi seperti itu, maka Anda salah besar. Justru mereka punya kesadaran politik yang tinggi, mereka bersuara, membangun jaringan dan mengorganisir diri. Secara unik, mereka juga mengatur strategi, memetakan siapa-siapa yang hari didekati, dilobi, dan kemudian ditemani. Tak perlu survey, tak ada medsos, dan tanpa publikasi media. Semua dikerjakan dengan jalur ‘darat’ melalu jejaring yang sudah bertahun-tahun terawat.

Waktu itu, kira-kira awal bulan Oktober 2016, pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno barus saja resmi dicalonkan menjadi Cagub-Cawagub DKI. Sore hari, tiba-tiba telepon berdering. Suara di seberang memperkenalkan diri atas nama Abdullah dari pemakaman Tanah Kusir, Kebayoran Lama. Di taman pemakaman Tanah Kusir kebetulan dimakamkan kekek dari Anies Baswedan, almarhum AR Baswedan. Di pemakaman itu pula terletak kompleks makam Sang Proklamator Bung Hatta.

Pak Uwoh, panggilan akrab Abdullah mengatakan bahwa dirinya bersama kawan-kawannya sesama pengelola pemakaman Tanah Kusir bermaksud bertandang ke rumah Anies malam itu juga. Katanya. meskipun ditemui sebentar tidak apa-apa, asal bisa bersalaman dan foto bareng calon gubernur yang baru.

Tak bisa kami tolak. Malam itu juga mereka datang. Serombongan sekitar 10 orang mengendarai motor menembus hujan gerimis datang ke rumah Anies Baswedan di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Saat mereka sampai, Mas Anies masih belum sapai rumah, mereka setia menunggu di Pendopo rumah joglo itu.

Anies baru sampai di rumah tengah malam, tengah malam itu juga mereka ditemui. Langsung memperkenalkan diri satu per satu. Mereka ada yang bagian perawat kubur, tukang taman, dan juga spesialis tukang doa kematian. Salah satu kemudian menyampaian maksudnya secara singkat padat: siap mendukung dan menjadi relawan Anies. Setelah itu foto bersama, lalu foto satu per satu menggunakan hp jadul mereka masing-masing. Tak peduli kualitas fotonya seperti apa, yang penting ada foto berdua dengan Sang Cagub. Jepret, jepret, jepret…

Selesai foto mereka pamitan pulang. Saya sempat menanyakan kepada mereka, mengapa musti foto satu per satu, apakah tidak cukup foto rombongan aja? Salah seorang diantara mereka menjawab: “Mas, ini foto akan saya pasang di HP saya, jadi nanti kalau saya ketemu orang saya tunjukan foto ini, bahwa saya sudah ketemu langsung dengan Anies. Itulah modal utama saya kampanye nanti. Dengan modal foto berdua ini, saya akan lebih mudah meyakinkan orang-orang yang saya temui untuk mendukung Pak Anies Baswedan”.
Baru sadar saya, ternyata benar juga mereka. Foto berdua itu akan menjadi senjata sakti untuk persuasi. Mereka tak perlu berbuih-buih menceramahi, tetapi cukup dengan bukti foto itu untuk menunjukkan bahwa mereka timnya Anies.

Dan benar, dalam perjalanannya, mereka ternyata bisa membangun kekuatan relawan yang dahsyat, khususnya di sekitar Kebayoran Lama. Memang pekerjaan mereka sehari-hari mengubur orang mati, tetapi jangan ditanya jejaring mereka di grassroot. Orang yang meninggal dunia memang tak bisa memberikan suara, tetapi bukankah ketika menguburkan satu orang mereka berinteraksi dengan puluhan aggota keluarga dan koleganya? Belum lagi, antar satu taman pemakaman satu pemakaman yang lainnya berjejaring.

Jejaring itu menembus batas-batas struktur birokrasi di bawah Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI. Mereka tahu dimana kunci-kunci penggerak massa di level paling bawah. Mereka jugalah yang paling tahu bagaimana berbahasa dengan bahasa masyarakat yang paling bawah. Saban hari mereka bergerilya, menebarkan virus-virus ajakan memilih gubernur baru. sebarannyapun tidak hanya di seputar lokasi pekuburan, tetapi meluas melintas batas administrasi kota.

Tapi kadang menunjukkan foto saja kurang cukup membuat yakin, terutama bagi kalangan yang agak menengah. Oleh karena itu Pak Uwoh dkk kadang mengajak saya untuk datang langsung ke lokasi menemui beberapa orang yang akan diyakinkan. Pernah suatu malam, saya tiba-tiba dihubungi, diajak ke salah satu wilayah di Jakarta Barat, bertemu dengan salah satu ketua RW di sana. Saya diajak untuk meyakinkan bahwa kami memang benar-benar tim Anies dan mengajak mereka untuk bergabung.

Suatu saat saya tanyakan kepadanya, dari mana kenal dengan Pak RW itu, dia menjawab, bahwa awal pertemuannya tidak sengaja. Waktu itu sedang makan di warung, lalu tiba-tiba ada pengunjung warung yang lain sedang membicarakan soal Pilkada Jakarta. Lalu disamperinlah mereka.

“Langsung saja saya bilang, kalau Jakarta mau lebih baik pilih saja Anies Baswedan. Saya sudah kenal dan ketemu langsung. Saya tunjukkan foto di HP saya, bahwa saya sudah bertemu dengan Anies langsung. Tapi sepertinya belum yakin betul. Maklumlah, saya ini khan bukan orang sekolahan. Jadi ya, ngomongnya tidak menyakinkan. Makanya saya ajak Mas malam itu, agar bisa menjelaskan dengan cara orang sekolahan.”

“Saya bilang, kalau Bapak belum yakin dengan saya, besok malam saya bawa timnya Pak Anies untuk datang langsung ke rumah Bapak dech!”, imbuhnya.

Pantasan waktu mereka setengah memaksa agar saya mau datang ke rumah Pak RW itu. Hal itu ia lakukan bukan hanya sekali. Saya berkali-kali diajak mereka ‘bergerilya’ mendatangi tokoh-tokoh kunci di kampung-kampung untuk memberikan penjelasan siapa Anies Baswedan dan Sandiaga Uno serta apa saja program-programnya.

Kata Pak Uwoh, “Mas, kenapa saya selalu minta Mas yang datang, karena kalau sudah Mas menjelaskan, mereka langsung mantuk-mantuk Mas. Langsung yakin dan besoknya aktif bergerak sebagai relawan.”

Foto: sedang bersantai

Bergerak Tanpa Dihentak

Selama perjalanan setengah tahun lebih perjalanan kerelawanan Anies-sandi, komunitas relawan perawat makam Tanah Kusir salah satu yang paling aktif bergerak. Merekalah yang secara aktif mengajak orang-orang untuk kenal dan akhirnya bergabung dengan Pendopo Relawan Anies-Sandi. Mereka pulalah yang setiap malam Jumat aktif memimpin doa bersama di Pendopo, tanpa pernah putus semenjak awal pertama kali Anies-Sandi resmi dicalonkan sampai dengan hari H pencoblosan.

Mereka bergerak tanpa pernah minta bantuan uang sepeserpun kepada Paslon ataupun tim sukses. Saat acara, tak jarang mereka malah membawa snackatau jajanan pasar lain untuk konsumsi. Paling-paling, jika ada sumbangan atribut kampanye seperti spanduk, kaos, poster, mereka akan minta untuk kemudian disalurkan lagi kepada relawan-relawan lain di kampungnya masing-masing.

Bagi mereka, keterlibatannya dalam politik kali ini adalah lebih dari sekedar menyalurkan suara. Memang ada hal yang bersifat hubungan emosional sehingga mereka mendukung Anies-sandi, yaitu bahwa mereka adalah kebetulan pengelola makam dimana kakek dari Anies dikuburkan di situ. Tetapi lebih jauh dari itu, keaktifan itu adalah bagian dari cara mereka untuk melakukan perubahan.

Dalam skala yang lebih makro, mereka ingin ada perubahan kepemimpinan di Jakarta yang lebih bisa dekat dengan rakyat dan berkomunikasi dengan santun. Anies, mereka sudah mengenal lebih lama meskipun melalui interaksi langsung hanya sebatas saat Anies dan keluarga berziarah ke makam kakeknya. Tetapi itu cukup untuk mengetahui watak dan karakternya. Sedangkan pada skala yang lebih mikro, mereka ingin ada perhatian lebih pada profesi pengelola makam. Namanya saja taman pemakaman, tetapi seringkali dikelolanya tidak sebagaimana mengelola taman.

Pertama, namanya taman pemakaman, oleh karena itu selayaknya dibuat lebih nyaman untuk para peziarah dan masyarakat sekitar. Tanaman-tamanan yang mendukung keindahan sudah selayaknya diperbanyak sehingga mengesankan suasana asri. Sebagai jawaban atas ini, di kampung sekitar Tanah Kusir masih banyak terdapat tanah kosong yang idle (tak terpakai). Mereka punya usulan untuk bisa dimanfaatkan untuk ditanami. Misalnya ditanami dengan tanaman-tanaman bunga yang biasanya dipakai peziarah, atau bisa juga untuk budidaya rumput taman yang biasanya juga digunakan untuk menghijaukan gundukan makam. Penggarapnya biarlah para pekerja makam tersebut, mereka akan dengan senang hati mengerjakannya. Itu menjadi penghasilan tambahan buat mereka.

Kedua mengenai birokrasi pengurusan proses pemakaman dirasa saat ini masih terlalu panjang. Untuk mengurus pemakaman, keluarga jenazah pertama kalu musti mendapatkan surat keterangan kematian dari rumah sakit atau puskesmas setempat. Selanjutnya musti datang ke kantor kelurahan untuk mendapatkan surat keterangan lagi. Surat inilah yang kemudian dibawa ke bagian administrasi pengelola pemakam untuk mendapatkan surat rekomendasi pihak pemakaman. Dari pemakaman mereka harus ke kelurahan lagi untuk mendapatkan surat pengesahan. Setelah itu mereka membayar administrasi di kantor kas Bank DKI dan kembali lagi ke kelurahan.

Pak Uwoh dan petugas pemakaman lainnya menyampaikan dirinya sering dikomplain oleh keluarga jenazah karena birokrasi yang kepanjangan ini. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka hanyalah pekerja lepas yang tidak memiliki otoritas dalam kebijakan. Oleh karena dengan gantinya rezim gubernur di DKI Jakrta ini, mereka berharap agar pemerintah, dalam hal ini dinas pertamanan dan pemakaman, menyederhanakan proses administrasi pengurusan pemakaman yang terlalu bertele-tele.

Ketiga, sebagai pekerja lepas, mereka juga seringkali merasa dituntut bekerja terlalu keras tanpa diimbangi dengan fasilitas yang mamadai untuk mendukung pekerjaan tersebut. Untuk sekedar menyebut contoh, peralatan untuk penggalian kubur, perawatan tanaman dan kebersihan sekitar sudah sedari bertahun-tahun lalu tak pernah ada peremajaan ataupun inovasi. “Alatnya ya itu-itu aja, yang sudah tua dan tidak efisen lagi”, kata salah saeorang honorer penggali kubur bernama Arif. Arif berharap ada peremajaan peralatan bagi para pekerja pemakaman.

Bagi para perawat/penggali kubur, berpolitik adalah bukan sekedar memberikan suara, tetapi ingin agar usulan-usulannya bisa terlaksana. Mereka selama ini sudah bekerja sebisa mungkin melayani para keluarga jenazah yang dikubur di situ. Hubungan yang mereka bina bukan sekedar hubungan kerjas saja tetapi juga hubungan pertemanan dan bahkan kekeluargaan. Di samping almarhum Bung Hatta, banyak orang-orang penting di negeri ini yang kuburannya di Tanah Kusir.

Saat ini Pilkada sudah usai. Sebagai relawan, mereka tak mau bubar begitu saja. Mereka bertekad akan terus mengawal Anies-sandi. Setelah Pendopo Relawan Anies-sandi non-aktif, mereka membentuk organ baru dengan nama Pendopo Bung Hatta dipimpin oleh ketua RW setempat. Sementara ini aktivitas rutinnya adalah majlis dzikir Pendopo setiap malam Jumat, namun ke depan dipastikan akan berkembang. Nama Pendopo Bung Hatta diambil karena aktivitas mereka basisnya di sekitar kompleks makam Sang Proklamator Bung Hatta. Sukses untuk Pendopo Bung Hatta!

Kredit Foto: tribunnenws.com | Tulisan ini adalah salah satu dari rangkaian tulisan mengenai relawan Anies-Sandi.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/chozin/politik-antik-para-penggali-kubur_593e6d16e745917fe33d9a12

One comment to “Politik Antik Para Perawat Makam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *