Belajar Relawan dari Muhammad Chozin

Spread the love

Oleh: Alvira Shenny

Ini foto 3 Des 2016. Pelatihan Relawan Darat, di Brawijaya, Kebayoran Baru. Pembicara nya M.Chozin Amirullah (staff ahli Anies Baswedan saat menjadi Mendiknas), dan M. Husnil (Penulis Biografi pak Anies). Yang mengundang saya Juang Akbar, salah satu anak muda yg boleh diacungkan jempol semangat perjuangan sosialnya.

Kalau ditanya kenapa mau dateng waktu itu? Ya, karena saya pikir ilmu baru nih. Itu aja. Waktu itu belum nge fans sama Anies Baswedan.

Bergabung menjadi Relawan Pendopo, saya pikir itu takdir. Karena tak satu pun orang yg saya kenal sebelumnya. Kecuali suami saya, dia pun diundang melalui e-mail, waktu itu undangannya untuk pelatihan dongeng. Dan, sampai saat ini masih mereka-reka siapa ya, yg sebenarnya “cemplungin” kami di dunia kerelawanan ini? Kalau lagi ngebahas ini, buntut-buntutnya menertawakan misteri yg tidak terkuak sampai hari ini, Halah!!!

Singkat cerita, ini saat pertama saya mengenal Muhammad Chozin Amirullah, saya biasa memanggil dengan “mas Chozin” ini. Kesan pertama saya, “Keren ya muda-muda sudah jadi staff ahli menteri.” Kebayang ngga bakalan deh bisa deket sama ini orang. Karena sepengalaman saya ya begitu itu.

Seiring perjalanan waktu, kedekatan itu terbangun dengan sendirinya. Kebetulan tinggal di wilayah yang sama di Pasar Minggu. Seperti nya ini takdir juga.

Dan, lucunya kalau saya sudah mentok sana-sini dalam pergerakan ini. Mas Chozin selalu jadi tempat curhat saya. Waktu itu ya, rekrutan saya banyak se Jakart ini. Mereka cuma modal ghiroh aja, saat dibenturkan dengan ini-itu ya keok juga, Wong Janji Kerja Anies-Sandi aja ngga tau. Saya mengajak mas Chozin untuk mengunjungi rekrut-rekrutan saya itu. Dan tanpa banyak alasan, mau. Beda lah sama yg lain #NoMention nyengir Dari Kampung Pulo sampai Lagoa. Dan ini ceritanya warna-warni. Sehari bisa 3 sampai 5 titik. Sampai saya sempet mikir “koq ini orang mau-mau nya ya turun ke masyarakat. Yang notabene dengan posisinya bisa banget lah tinggal nyuruh-nyuruh orang. Kan Relawan Pendopo itu jumlahnya puluhan ribu.” Sampai saya menemukan jawaban sendiri “Pemimpin itu memberi contoh.” Oh, mungkin ini ya, dalam pikiran saya. Selama saya mengenal mas Chozin, ngga pernah tuh saya mendengar kalimat perintah atau pesan perintah. Buat saya ini wajah kepemimpinan yg sangat berbeda.

Setiap dalam komunitas, pergerakkan, organisasi, apa pun tidak terlepas dari masalah. Selalu ada dinamika. Bagaimana mas Chozin juga pernah juga dipojokkan. Kalau itu terjadi sama saya, mungkin saya sudah marah. Tapi mas Chozin ngga loh. Tetap aja adem (baca: cool), seperti tidak ada masalah. Di sini saya belajar manajemen konflik. Ini keren banget siyh. Sudah seharusnya pemimpin seperti ini. Dan, ketika mengalami konflik saya sendiri, (lagi-lagi) saya curhat ke Mas Chozin. Tau apa jawaban mas Chozin, “Begini Mba, tidak perlu terpancing emosi. Kita bisa lihat asal dia darimana. Mungkin pola komunikasi daerah asalnya seperti itu. Dimaklumi saja. Kalau Mba merasa tidak cocok kerjasama dengan dia, ya sudah tidak usah kerjasama lagi. Tapi, tetap berteman seperti biasa. Tidak perlu lah bermusuhan, tidak perlu membenci.” Simple! Koq, saya ngga mikir sampai sana ya? Sebenernya akar dari setiap permasalahan hanya lah kurangnya “rasa memaklumi” di antara kita. Itu aja.

Sekarang saya tetap terus bergerak dan berjuang untuk ummat untuk warga. Saya “mencontek” segala sesuatu yg saya dapat dari mas Chozin. Saya mendirikan PenA KITa (Pendidikan Anak Keluarga Ibu & Cerita), bimbel berbasis parenting untuk warga ekonomi menengah ke bawah. (Lagi-lagi) mas Chozin membantu saya bersama Turun Tangan yg beliau ketuai.

Acapkali orang bertanya kepada saya, “Mba lulusan apa?” Atau, terkadang langsung straight to the point “Mba, lulusan psikologi ya?” Jawaban saya selalu sama, “Bukan, saya lulusan Jurnalistik dari IISIP.” dan pertanyaan berikutnya “Koq, ngurusi dunia anak-anak?” (bimbel berbasis parenting). Lagi-lagi, jawaban saya tetap sama, “panggilan jiwa. Saya ngga tau umur saya sampai kapan. Hanya ini yg bisa saya perbuat untuk ummat.”
Padahal, terkadang saya ingin menjawab, “Saya alumni Pendopo, dan mentor saya mas Chozin.”

Dari beliau saya belajar banyak. Bagaimana harus bergerak dan menggerakkan. Bagaimana mengatasi keadaan, bukan keadaan yg menguasai kita. Bagaimana tulus dalam berkarya. Sangat banyak. Jujur ya, ini bukan carmuk (cari muka). Ini yg saya alami, ini yg saya rasakan. Berharap mas Chozin diberkahi umur panjang dan kesehatan, agar terus bisa “menularkan” semangat positif menebar kebaikan. Aamiin. #Still #HBDMasChozin

Pasar Minggu, 10 Juni 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *