Jangan Panggil Aku Bos

Spread the love

Jika Anda hidup di Jakarta, terlepas dari apapun kedudukan dan posisi sosialnya, Anda pasti akan sering dipanggi ‘Bosss’. Bukan oleh bawahan Anda, melainkan oleh rekan Anda, oleh orang yang baru Anda kenal, atau bahkan oleh atasan Anda. Yang paling sering, jika Anda naik ojek, Anda pasti akan dipanggil Bosss oleh si tukang ojek. Di Jakarta, panggilan Bosss memang sudah sangat lumrah di mana saja.

Lalu apa sih sebenarnya makna dari panggilan Bosss tersebut? Tentu ketika seseorang memanggil lawan bicaranya dengan awalan Boss, dalam hatinya tidak benar-benar memanggil Boss. Panggilan itu hanya dimulut saja. Maksudnya agar lebih nyaman dalam memanggil. Dari pada memanggil langsung dengan sebutan nama langsung, dalam budaya kita terasa kurang sopan. Sementara memanggil dengan sebutan Abang, Mas, Akang dan sebagainya sering kali dianggap terlalustereotyping dengan etnis tertentu. Maka memanggil dengan sebutanBoss terasa lebih nyaman dan netral, minimal bagi pemanggilnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang dipanggil? Bagi orang yang sudah terbiasa dengan interaksi di Jakarta, tentu sudah merasakan panggilan itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dengan panggilan tersebut. Di kesempatan lain, dia juga akan panggil balik orang yang memanggil dengan sebutan Boss tersebut dengan panggilan Boss pula. Akan tetapi bagi orang yang baru saja datang ke Jakarta, pasti dia akan kaget dan keki dengan panggilan tersebut. “Saya kan bukan Boss, kenapa saya dipanggil Boss?”

 

Saya sendiri, yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta masih merasa risih dengan panggilan tersebut. Selalu saja ada perasaan aneh ketika lawan bicara saya memanggil saya dengan Boss. “Bosss…gimana kabarmu?” “Boss dapat salam dari Anu.” BossBosss…Bosssss. BassBoss,BassBoss, emangnya aku ini Boss-mu? (dalam hatiku, yang sebenarnya selalu menolak). Yang jelas saya tidak pernah nyaman ketika dipanggilBoss.

Sebenarnya cara panggil-memanggilan dengan sebutan Boss ini belum lama terjadi di Jakarta. Seingat-ku baru sekitar sejak 7 tahunan yang lalu-lah. Awal-awalnya saya sering mendapatkan panggilan itu dari tukang ojek dimana saya sering memakai jasanya untuk mengantar ke stasiun, lama-lama cara panggilan tersebut menjadi umum di mana-mana. Bahkan waktu saya jadi ketua suatu organisasi kepemudaan dulu, di sekretariat kami-pun banyak diantara kawan-kawan yang saling memanggil dengan Boss.

Entah awalnya cara panggilan tersebut dimulai dari komunitas tukang ojek atau bukan, perlu penelitian antropologis untuk menjawab pertanyaan ini hee. Yang jelas, cara memanggil kawan dengan sebutanBoss tersebut kini sudah menjadi umum di Jakarta. Semoga ketika orang memanggil Boss, bukan karena bermaksud oportunis. Semoga pula munculnya istilah panggilan Boss ini bukan merupakan ekspresi dari tradisi jilat-menjilat dalam masyarakat kita.

Nah, Jika Anda dipanggil Boss, yakinlah yang memanggil pasti tidak secara hati menganggap Anda sebagai Bossnya, dan Anda juga tidak perlu ge-er dipanggil Boss.Saya sendiri tidak suka dipanggil Boss, karena saya lebih suka sesuatu yang egaliter. Bagaimana dengan Anda?

28.03.14 21:48:39     http://www.kompasiana.com/chozin/jangan-panggil-aku-bos_54f7c70aa33311541d8b4975

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *