Cara Mendikbud Anies Ajak Para Eselonnya Progresif

Spread the love

Tangsel Kota, 20 September 2015 bukan melalui ceramah ataupun instruksi, tetapi dengan simulasi dan games yang menyenangkan. Inilah cara Mendikbud Anies Baswedan memastikan visi-misi Kementerian bisa terinternalisasi ke seluruh jajaran pejabat eselon I dan eselon II-nya: diajak nge-‘camp’ selama tiga hari, tinggal bersama, makan bersama, berdiskusi, main game, bergurau, dan saling mendalami satu sama lain untuk merancang arah gerak kementerian selama lima tahun mendatang. Kemudian kami menyebut acara selama tiga hari tersebut dengan nama Visioning.

Acara dilangsungkan mulai tanggal 16-18 September 2015, di sebuah hotel sederhana, bintang 3, Soll Marina Serpong. Tentu saja, untuk level pejabat-pejabat eselon I dan II, hotel tersebut bukan hotel yang dulu merupakan hotel standar eselon I. Tapi ada pesan kuat di situ, hotelnya boleh sederhana, tetapi interaksi yang terjadi selam proses tiga hari tersebut sangat berkualitas. Betapa tidak, selesai mengikuti acara, terpancar wajah-wajah bersinar yang seakan sudah mendapatkan pencerahan.

“Tak pernah terjadi sebelumnya di Kementerian ini, dimana Menteri dan eselonnya duduk bersama selama tiga hari dalam suasana yang sangat informal dan penuh gelak-tawa. Ini pertama kali dan dampaknya luar biasa”, kata salah seorang pejabat eselon I yang hadir.

Seorang peserta lain, bahkan secara terang-terang menyampaikan pendapat dalam forum, “Pak Menteri, mohon maaf, barangkali selama kami interaksi selama di sini banyak sekali hal-hal yang tidak sopan dilakukan oleh bawahan terhadap atasan. Jujur, baru kali ini kami mendapatkan seorang pimpinan yang bersedia ‘nongkrongi’ acara selama tiga hari tanpa jeda, dan terlibat, duduk bersama serta bermain game bersama kami. Biasanya, kalau ada acara, pimpinan hadir saat pembukaan saja, dan jika berkenaan plus penutupan.”

Atas komentar tersebut, Mendikbud hanya membalas dengan enteng, “Tidak masalah sama sekali, saya lebih suka dengan sesuatu yang apa adanya. Sudah lama kita-kita hidup dalam ketidakapaadan bukan? Saya suka dengan keapaadaan, karena itu yang bisa menjadikan kita bahagia dan tanpa beban.

Acara tidak langsung dipandu oleh Menteri, melainkan oleh tim fasilitator yang secara reputasi memang sudah dikenal sebagai fasilitator handal dalam leadership dan manajemen organisasi. Koordinatornya namanya Ucoq, gayanya sangat santai dan suka melucu. Fasilitator Ucoq memang suka mengocok perut para peserta. Hampir tidak ada ceramah, yang ada adalah game, releksi dan pemaknaan bersama. Peserta diiajak merefleksikan gaya leadershipnya masing-masing melalui game-game yang diselenggarakan.

Diantaranya ada game yang merepresentasikan gaya komunikasi organisasi para pejabat. Setelah melakukan game tersebut, barulah tahu bahwa selama ini rata-rata para pejabat tersebut lebih dominan menggunakan komunikasi satu arah dan terbatas pada lingkup kerjanya masing-masing saja. Kemudian, muncul kesadaran bahwa seorang pimpinan membutuhkan pola komunikasi yang dialogis dengan bawahan, difusi informasi yang lancar antar unit kerja sehingga membuka peluang untuk saling kerjasama.

Ada juga satu game, mirip dengan permainan anak sudah mandah, yang mengajarkan mengenai pentingnya perencanaan matang, koordinasi kuat, dan keberanian untuk merubah rute baru demi mencapai tujuan. Game ini cukup memberikan pelajaran pada peserta untuk berani melakukan revew atas pola-pola pelaksanaan program yang selama ini dijalankan. Dalam birokrasi, program biasanya dilaksanakan sekedar berorientasi penyerapan tanpa banyak mempertimbangkan output ataupun dampak kongkretnya pada masyarakat. Banyak sekali program-program di pemerintahan yang diijalankan karena periode-periode sebelumnya menjalankan hal yang sama. Akibatnya, program tersebut tidak efisien, minim inovasi, dan tidak melibatkan masyarakat luas.

daf renstra

Mendikbud yang tidak jarang terlibat dalam game-game yang diselenggarakan, juga andil dalam sesi refleksi. Tak ada kesan sama sekali menggurui, tetapi di situlah sesunggguhnya ia memasukkan gagasan-gagasan perubahannya. Misalnya, saat ingin memastikan agar semua eselon I dan II paham dan mendalami visi Kemendikbud: “Mewujudkan Insan dan Ekosistem Pendidikan dan Kebudayaan yang Berkarakter denggan Dilandasi Semangat Gotong-royong,” ia tidak serta merta memfatwakan rangkaian kata-kata tersebut, melainkan dengan mengajak peserta berdiskusi dan bahkan mengkritisi definisi pilihan-pilihan katanya. Yang terjadi adalah, peserta terlibat dalam penyusunan visi dan merasakan kepemilikan yang kuat terhadap visi tersebut.

Hasil nge-camp selama tiga hari tersebut dahsyat. Di akhir acara, para peserta menyepakati untuk: 1). Kembali mereview program-program yang sudah berjalan selama ini, 2). Komitmen untuk meredesign struktur program/kegiatan dan menjalankannya melalui pilot project, dan tentunya 3). Ingin menjalankan model acara yang serupa untuk eselon-esolon di bawahnya. (Chozin/ Kompasiana 20 Spetember 2015 http://www.kompasiana.com/chozin/cara-mendikbud-anies-ajak-para-eselonnya-progresif_55fe24385c7b6171048b4567)

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *